Pemerintah dan PT. BIJB Serius Kembangkan Kawasan Aerocity Bandara International Kertajati Jawa Barat


20190519010054_pemerintah_dan_pt._bijb_serius_kembangkan_kawasan_aerocity_bandara_international_kertajati_jawa_barat..jpeg

Pada Jumat (17/5), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia melalui Asisten Deputi Penataan Ruang dan Kawasan Strategis Ekonomi (TARU-KSE) telah melakukan rapat teknis pengembangan kawasan Aerocity dan optimalisasi pemanfaatan Bandara International Kertajati Jawa Barat (BIJB) bersama dengan Bappeda Provinsi Jawa Barat, Dinas Perhubungan Jawa Barat, PT Angkasa Pura II  (Persero), PT Angkasa Pura Property, PT BIJB, dan PT BIJB Aerocity Development, dan PT PP Pro Aerocity Development.

Bandara yang telah diresmikan pada Juni 2018 dan termasuk ke dalam salah satu proyek strategis nasional ini rencananya juga akan dikembangkan kawasan aerocity di sekitarnya dengan luas 3.480 Ha.

Kawasan Aaerocity Bandara Kertajati akan berada di dalam kawasan segitiga emas Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati dan sekitarnya). Lokasi ini tentu berpotensi meningkatkan perekonomian dan menciptakan pusat- pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitarnya. Kawasan Rebana pun rencananya akan diusulkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang di dalamnya akan terdapat 11 (sebelas) Kawasan yang mencakup kota baru maupun kawasan berbasis industri, sehingga diharapkan dapat membuka kesempatan kerja bagi penduduk Jawa Barat.  

“Berkembangnya aerocity dan Kawasan Ekonomi Khusus Rebana akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Jawa Barat. Kawasan Rebana akan membuka kesempatan kerja bagi penduduk Jawa Barat yang saat ini Jawa Barat menempati provinsi dengan pengangguran terbanyak”, ujar M. Taufiq Budi Santoso, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat.

Aksesibilitas merupakan kunci pengembangan kawasan aerocity Bandara Kertajati.  Saat ini Tol Cisumdawu (Cileunyi, Sumedang, Dawuan) sebagai sarana untuk menarik penumpang dari wilayah Bandung dan hinterland-nya ditargetkan baru akan selesai pada tahun 2020-2021. Hal ini masih terkendala masalah pembebasan lahan di sesi 4-6 yang menghubungkan Sumedang-Dawuan. Selain itu, Tol Cipali yang sudah beroperasi juga belum dapat sepenuhnya mendukung Bandara Kertajati dikarenakan belum terhubung langsung dengan Bandara Kertajati

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk mempercepat pembangunan Tol Cisumdawu dan  pembangunan jalan akses Tol Cipali KM 152 dan KM 157 yang terhubung dengan kawasan Aerocity untuk mendukung Kawasan Aerocity Bandara Kertajati.

Akses transportasi berupa kereta api yang langsung menuju Bandara Kertajati saat ini belum tersedia dan masih dalam perencanaan. M. Taufiq Budi Santoso, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat memaparkan bahwa rencananya akan dilakukan reaktivasi pembangunan jalur kereta api bandara ke Bandara Kertajati (misalnya Jalur KA Ranca Ekek – Tanjung Sari) dan penyediaan kereta api bandara.

Hal senada juga pernah disampaikan oleh Bambang Eko Martono, Direktur Logistik dan Pengembangan PT. KAI (Persero) pada rapat koordinasi optimalisasi pemanfaatan Bandara Kertajati di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (8/4/2019) lalu.

Terdapat 3 (tiga) saran alternatif rute transportasi yaitu pertama reaktivasi jalur kereta api Cirebon – Jatiwangi dan pembangunan track baru dari Jatiwangi menuju Bandara Kertajati, kedua pembangunan track baru dari Stasiun Jatibarang ke Bandara Kertajati, dan ketiga pembangunan track baru dari Nagreg ke Bandara Kertajati.

“Sehubungan dengan pembangunan track baru, PT.KAI (Persero) mengharapkan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk pembebasan lahan. Sedangkan untuk re-aktivasi jalur kereta api dapat dilakukan langsung oleh PT.KAI (Persero)”, tutur Bambang.

Terkait optimalisasi Bandara Kertajati, Muhammad Singgih, Direktur PT BIJB menuturkan bahwa Bandara Kertajati masih menunggu hasil sertifikasi kelaikan runway dari yang sebelumnya 2.500 m menjadi 3.000 m. Penerbangan non Jawa dari Bandara Husein Sastranegara akan dipindahkan ke Bandara Kertajati mulai 15 Juni 2019. Penerbangan calon Jemaah haji asal Jawa Barat akan dilakukan melalui Bandara Kertajati per Juli 2019.

Namun demikian, terdapat kendala yang masih dihadapi adalah belum tersedianya asrama haji di sekitar bandara. Asrama haji tentu sangat diperlukan, bukan hanya sebagai tempat penginapan tapi juga tempat karantina calon jemaah haji.

Sarana pendukung lain, seperti Hotel dan Rumah Sakit bertaraf bandara internasional juga belum tersedia di sekitar Bandara Kertajati. Hotel dan Rumah Sakit yang memenuhi standar terdekat berada di Kabupaten dan Kota Cirebon. Hal ini selain mempengaruhi pilihan penumpang juga meningkatkan biaya (cost) kru pesawat dari maskapai penerbangan.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong pemerintah provinsi Jawa Barat untuk melakukan percepatan pembangunan Asrama Haji di sekitar Bandara Kertajati dan menarik investor untuk melakukan pembangunan hotel dan rumah sakit di sekitar Bandara Kertajati. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mendukung fasilitasi koordinasi BUMN terkait harga avtur dan Depot Pengisian Pesawat Udara (Pertamina) dan terkait pembelian 25% saham PT. BIJB oleh PT Angkasa Pura II (Persero).

“Kami men-support pengembangan Kertajati. Aksesibilitas merupakan kunci pengembangan.” ujar Deni Krisnowibowo, Head of Airport Development PT Angkasa Pura II (Persero). (igt/dfa)




Berita Terkait